Memanfaatkan AI secara produktif membutuhkan kemampuan memahami masalah dan memverifikasi hasil, bukan sekadar menerima jawaban yang terdengar meyakinkan. Aku menuliskan ini dari pengalaman langsung memakai AI untuk pekerjaan teknis sehari-hari, termasuk satu kejadian yang cukup membekas saat sebuah jawaban yang terdengar sangat masuk akal ternyata salah di bagian yang paling tidak kentara.

Sejak itu, aku memperlakukan AI sebagai kolaborator yang perlu diperiksa, bukan sumber kebenaran. Pertanyaan yang tepat lebih penting daripada jawaban yang cepat.

Cara berpikir kritis justru menjadi lebih penting di era AI, bukan malah tergantikan olehnya.