Ketika perjalanan ditulis, sebuah tempat tidak lagi hanya menjadi titik di peta. Aku belajar bahwa buku catatan lama yang menyimpan satu perjalanan ke perjalanan lain diam-diam menyimpan lebih banyak dari sekadar rute dan nama tempat — ia menyimpan versi waktu-waktu tertentu, lengkap dengan keresahan dan hal-hal kecil yang dulu terasa penting untuk dituliskan.
Menulis catatan perjalanan bukan sekadar dokumentasi, tapi cara untuk memperlambat waktu. Setiap kalimat yang kutulis di pinggir jalan, di kedai kopi, atau di dalam bus malam, menjadi jangkar yang membuat kenangan itu tidak mudah hilang ditelan rutinitas.
Arsip semacam ini akhirnya menjadi cermin — tempat aku bisa melihat bagaimana cara berpikirku berubah dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, dan bagaimana hal-hal kecil yang dulu terasa remeh, ternyata membentuk banyak hal besar di kemudian hari.
Leave a Reply